Saturday, August 07, 2010

Madinah 1938


Madinah & Makkah kini di negara Saudi (sebelum nya Hijaz) bukan lah negara yang kaya raya.. Semua nya berubah apabila minyak dijumpai oleh California Oil Company iaitu syarikat milik Amerika Syarikat.

Tarawih Sendirian atau Tarawih Jamaah?

Tinggal beberapa hari sahaja lagi Ramadhan akan datang. Di bulan Ramadhan, Rasulullah saw menganjurkan agar kita menghidupkan malamnya. Adakah kita hendak bertarawih di masjid atau di rumah saja??? Kenapa Nabi Muhammad s.a.w. hanya 3 kali saja berterawih secara jemaah di masjid??? Padahal rumah Nabi kita terletak kembar dengan masjid?

Imam an-Nawawi, di dalam penjelasan terhadap shahih Muslim mengatakan, “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).”.

Ibnu Hajar, di dalam kitab Fathul Bari, memperjelas kembali tentang hal tersebut: “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih. Namun begitu, bukan maksudnya bahawa yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja.”

Rasulullah saw telah memberikan contoh kepada kita dalam pelaksanaan shalat tarawih ini. Namun setelah berjalan tiga malam, beliau membiarkan para sahabat melakukan tarawih secara sendiri-sendiri, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis dari A’isyah ra.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah saw tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau saw bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)


Berdasarkan af’al (tindakan) nabi tersebut, para ulama’ menyimpulkan bahwa tarawih itu adalah sunnah. Di zaman Khalifah Umar saja, khalifah berkenaan menjadikan Tarawih berjamaah itu satu rutin setiap malam di Masjid Nabawi. Terbawa pula hingga ke zaman ini.

Demikianlah fakta sejarah, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam secara turun temurun mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Tetapi sayang, setelah beliau wafat, dalam melaksanakan sunnah ini terdapat perbedaan di beberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat.

Kupasan mengenai apa yang berlaku di zaman Omar adalah seperti berikut. Ketika Umar bin Khathab menjadi Khalifah, ia menyaksikan kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih di Masjid Nabawi secara terpisah-pisah. Ada di antara mereka yang berjama’ah, tetapi ada pula yang shalat sendiri-sendiri. Lalu terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar memerintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim ad-Dari untuk memimpin para sahabat melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Antara Berjama’ah atau Sendirian

Memang, setelah Rasulullah saw shalat tarawih di masjid selama tiga hari, beliau selanjutnya shalat tarawih sendiri di rumah beliau. Tindakan itu, sebagaimana sudah dijelaskan oleh Rasulullah sendiri, adalah agar tidak memberatkan kaum muslimin. Sebab apabila beliau melakukannya terus menerus, maka akan difahami sebagai sebuah kewajiban.

Berkaitan dengan tindakan Rasulullah tidak melanjutkan shalat bersama kaum muslimin ini maka para ulama’ berbeda pendapat. Setidaknya ada dua pendapat dalam masalah ini:
Pendapat pertama; Shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i dan sebagian besar sahabatnya, juga pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad, serta sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan pendapat ini pula yang dipegang Syaikh Nashiruddin Al-Albani, beliau berkata: “Disyariatkan shalat berjamaah pada qiyam bulan Ramadhan, bahkan dia shalat tarawih dengan berjamaah lebih utama daripada dilaksanakan sendirian…”

Pendapat kedua, yang utama adalah dilaksanakan sendiri-sendiri.
Pendapat kedua ini adalah pendapat Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebahagian juga dari pengikut Imam Asy-Syafi’i.

Hujah yang membawa kepada percanggahan pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

1- Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra di atas: Di dalam hadis yang panjang tersebut ada ungkapan;

فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ

Maka para shahabat shalat bersama dengan shalat beliau Rasulullah s.a.w.

Ungkapan ini ada membawa maksud bahawa para shahabat pada ketika itu solat berjama’ah bersama Rasulullah saw.

2. Hadits Abu Dzar ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Hadits ini dinyatakan sebagai hadis shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Berkenaan dengan hadits di atas, Imam Ibnu Qudamah di dalam kitab al-Mughni mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).” Adakah itu pendapat Imam Ibnu Qudamah sahaja?? ..atau ada disabdakan oleh Nabi?? Mana hadis yang mengatakan bahawa Nabi Muhammad s.a.w. suruh kita solah Tarawih berjemaah?

Syaikh Al-Albani berkata: “Apabila permasalahan mengenai shalat (tarawih) yang dilaksanakan pada permulaan malam secara berjamaah dengan shalat (yang dilaksanakan) pada akhir malam secara sendiri-sendiri maka shalat (tarawih) dengan berjamaah lebih utama karena terhitung baginya qiyamul lail yang sempurna.”

3- Perbuatan ‘Umar bin Al-Khatab dan para shahabat yang menyokongnya juga diambil kira oleh para ulamak selepas zaman Khulafak Ar Rasyidin. Kisah nya, "Ketika ‘Umar bin Al-Khatab melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebahagian mereka ada yang salat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah Ubay bin Ka’b sebagai imam solat Tarawih".

Adapun Dalil pendapat kedua:

1- Hadits dari Zaid bin Tsabit yang menceritakan bahwa Rasulullah saw tidak shalat tarawih di masjid, lalu beliau menjelaskan persoalannya dan bersabda:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan.” (al-Bukhari)
Berdasarkan hadis inilah mereka berpendapat bahwa shalat tarawih yang dilaksanakan di rumah dengan sendiri-sendiri dan tidak dikerjakan secara berjamaah lebih utama.

2. Atsar yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abdul Qari, ketika Umar menyatukan shalat tarawih dalam satu jama’ah, lalu Umar mengatakan,

وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan (mereka) yang tidur dengan meninggalkan jamaah tarawih adalah lebih utama dari yang melaksanakannya secara berjama’ah (di masjid), karena ia menginginkan shalat di akhir malam. Tetapi orang-orang memilih untuk melaksanakan tarawih di awal malam dengan berjama’ah.. (al-Bukhari)

Berdasarkan penjelasan dan argumentasi masing-masing pendapat, kita dapat melihat bahawa ada percanggahan pendapat yang menganggap masing-masing pendapat ada kelebihan. Pendapat pertama memiliki beberapa kelebihan, antara lain;

1. Nilai shalat berjama’ah. Di sini pun berlaku hadis yang menerangkan keutamaan shalat berjama’ah, dilipatgandakan 25 kali lipat.

2. Shalat Tarawih bila dilaksanakan secara berjama’ah akan menampakkan syi’ar Islam. (Itu pendapat yang menyokong Tarawih berjamaah. Solat wajib setiap hari di masjid juga menampakkan syiar Islam. Tarawih bukan solat wajib, maka Nabi tak mahu membebankan umat Islam dengan menjadikan nya seolah-olah mesti berjamaah atau lebih baik berjamaah di masjid).

3. Karena shalat berjamaah yang dipimpin seorang imam lebih mendorong semangat bagi umumnya kaum muslimin.

Sedangkan pendapat kedua juga percaya mereka memiliki kelebihan; yaitu keutamaan ibadah di akhir malam, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah;

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, “Siapakah yang berdo’a kepadaKu maka akan aku kabulkan baginya. Siapa yang meminta kepadaKu akan Aku berikan kepadanya. Siapa yang memohon ampunan kepadaKu maka akan aku ampuni dia (Muttafaq ‘alaih)

Ini bagi mereka yang menerima hadis riwayat dari Abu Hurairah. Umat Islam yang menyokong perjuangan keluarga Nabi Muhammad s.a.w. di zaman Khalifah Ali bin Abi Talib Karamallah Wajhah menentang Penguasa Syria iaitu Mu'awiyah bin Abu Sufyan telah menolak kredibiliti Abu Hurairah di dalam menghimpun hadis kerana Abu Hurairah dikatakan mempunyai hubungan yang akrab dengan Mu'awiyah dan hadis yang disampaikannya diragui kerana dilihat sering menyebelahi Mu'awiyah di dalam permasalahan kemelut politik antara Mu'awiyah dan Saiyidina Ali.Malah Abu Hurairah dikuburkan di Souq Hamidiah tidak jauh dari kubur Mu'awiyah di Perkuburan Bab Saghir, Damascus, Syria.

Pendapat ada mengatakan, jika kita ingin mencari keutamaan yang paling baik, maka shalat tarawih secara berjama’ah pada sepertiga malam terakhir (iatu dalam jam sekitar bermula 2.45am-3.00am hingga masuk waktu solat Subuh (Fajar). Tetapi cara seperti ini tentu sangat berat untuk dilakukan oleh kaum muslimin. Jangankan bangun untuk qiyamul lail, untuk makan sahur saja terkadang terlambat... malah ada yang terlepas.

Kita perlu faham bahawa Islam bukanlah agama yang mengajarkan kesulitan. Tetapi jika mampu melakukan suatu amalan yang mengandung kesulitan, maka Allah boleh memberikan keutamaan. Itu hak Allah swt sebagai Tuhan yang Maha Berkuasa... Namun jika tidak sanggup, maka harusnya kita mencari kautamaan lain yang lebih mudah untuk dicapai.

Bila untuk melaksanakan shalat Tarawih dengan berjama’ah pada sepertiga malam terakhir adalah sebuah kesulitan, maka Rasulullah pun memberikan jalan keluar, bahwa tarawih dengan berjama’ah meski di awal malam, apabila dari awal hingga akhir dilakukan bersama dengan imam, juga memiliki keutamaan sebagaimana telah melsanakan qiyamul lail secara sempurna, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah di dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar di atas.

Kita tidak boleh taksub mazhab di dalam mencari apakah cara yang paling hampir kepada ibadat Rasulullah s.a.w. Sudah lebih 14 abad Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan kita.. Imam as-Syafie pernah menyebut "Kalau sahih hadis itu maka itulah mazhabku. Kalau ada pendapatku yang bertentangan dengan al-Quran dan As Sunnah yang sahih, buanglah pendapatku itu. Mungkin ada yang tidak kuketahui".

Sesungguhnya,bersolat tarawih secara bersendirian ini adalah dari zaman Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup dan kekal sehingga lah pada zaman ‘Umar al Khattab ianya diubah. Iaitu apabila Omar mengumpulkan orang ramai untuk mengerjakan solat tarawih ini secara berjemaah. Daripada ‘Abdul Rahman bin ‘Abdul Qari yang berkata: Pada satu malam di bulan Ramadan aku keluar bersama ‘Umar al-Khaththab r.a ke masjid. Di dapati orang ramai berselerakan. Ada yang solat bersendirian, ada pula yang bersolat dan sekumpulan (datang) mengikutinya. ‘Umar berkata: “Jika aku himpunkan mereka pada seorang imam adalah lebih baik.” Kemudian beliau melaksanakannya maka dihimpunkan mereka dengan (diimamkan oleh) Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar pada malam lain, orang ramai bersolat dengan imam mereka (yakni Ubai bin Ka’ab). Berkata ‘Umar: “Sebaik-baik bidaah adalah perkara ini, sedangkan yang mereka tidur (solat pada akhir malam) lebih dari apa yang mereka bangun (awal malam).” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya no: 2010

Disimpulkan bahawa, solat Tarawih berjemaah ini sememangnya bidaah dan Khalifah Omar sendiri memang mengakuinya. Memang mereka lihat sendiri, Junjungan Mulia Rasulullah s.a.w. tidak menjadikan nya solat jamaah (sempat 3 kali sahaja orang Madinah ikut di belakang sebagai makmum) sebelum Rasulullah s.a.w. solat sendirian Tarawih itu terus sehingga akhir hayat Baginda. Namun ada hujah-hujah para sahabat yang mengajak agar umat Islam berbuat sebalik nya.. Alasan nya ada dinyatakan terdahulu.

SUJUD --> dahi, dahi +hidung, atau hidung saja (+ 2 tapak tangan, 2 lutut, 2 perut jari tapak kaki)?

Tadi saya solat Maghrib di satu masjid di Jeddah. Ada seorang Arab tegur saya, kata nya solat tak sah kalau sujud tak kena hidung. Saya kata, adakah sunat.. Dia kata wajib. Maka saya membuat rujukan bahawa hidung itu kalau kena masa sujud amat lah baik, tetapi tidak pula merosakkan sujud jika dahi sudah kena dengan baik pada lantai... Adakah fahaman di Saudi dikira wajib hidung turut kena ke lantai? Bagi hidung Arab mudah lah... bagi hidung orang Asia atau Afrika bukan semua hidung mancung macam Arab... Kalau hidung rendah nak dikenakan ke lantai, bahagian kening saja yang dapat mencecah, bukan dahi.. silap-silap mulut sekali kena ke lantai kalau bibir tebal..

Apa makna sujud? Apa hukumnya?

Sujud bermaksud meletakkan dahi di atas tempat sujud. Sujud adalah wajib di dalam solat. Tidak sah solat tanpa sujud. Sujud yang diwajibkan di dalam solat ialah dua kali pada setiap rakaat dengan diselangi oleh duduk. Dalil kewajipan sujud ini ialah sabda Nabi s.a.w. (tatkala mengajar seorang lelaki yang salah dalam melakukan solat); “….Kemudian hendaklah kamu sujud sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan sujud, kemudian kamu bangkitlah dari sujud sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan duduk, kemudian kamu sujud kembali sehingga kamu tomaninah (tetap dan tenang) dalam keadaan sujud…”. (Riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim)

Apakah anggota-anggota yang terlibat semasa sujud?

Sabda Nabi s.a.w.; “Aku diperintahkan supaya sujud di atas tujuh tulang (yakni tujuh anggota) iaitu; dahi –baginda menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan jari-jari dari dua kaki…” (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a.). Berdasarkan hadis ini, anggota sujud hendaklah merangkumi;
1. Dahi
2. Dua tangan
3. Dua lutut
4. Dua kaki

Ketika sujud, wajib ke semua tujuh anggota di atas diletakkan di atas lantai. Bagi dahi, memadai meletakkan sebahagian dahi sahaja di atas lantai. Bagi tangan yang dikira ialah tapak tangan dan bagi kaki pula ialah perut-perut anak jari kaki. Memadai dengan meletakkan sebahagian sahaja dari perut-perut anak jari kaki itu. Jika seseorang itu sujud di atas belakang tangan atau belakang anak-anak jari kakinya, tidak sah sujudnya.

Adakah hidung juga wajib diletakkan di atas lantai ketika sujud?

Terdapat khilaf di kalangan ulamak;
Pertama; menurut Imam Ahmad; dahi dan hidung wajib diletakkan di atas lantai ketika sujud. Tidak cukup hanya dahi sahaja atau hanya hidung sahaja. Beliau berdalilkan hadis di atas di mana Nabi turut menunjukkan kepada hidungnya tatkala menyebutkan tentang dahi sebagai salah satu angota sujud. Selain itu ia berdalilkan juga hadis dari Abu Humaid as-Sa’idi yang menceritakan; “Nabi tatkala sujud, baginda menekan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan dua tangan dari rusuknya dan meletakkan dua tapak tangan setentang dua bahunya” (Riwayat Imam at-Tirmizi dan Abu Daud. Menurut at-Tirmizi; hadis ini hasan soheh). Ibnu ‘Abbas r.a. menceritakan; Nabi telah melihat seorang lelaki menunaikan solat. Ia sujud tanpa meletakkan hidungnya di atas tanah. Lalu Nabi berkata kepadanya; “Letakkan hidungmu (ke tanah) supaya ia sujud bersamamu” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Akhbar Asbahan).
Kedua; menurut mazhab Syafi’ie dan Malik; yang wajib ialah meletakkan dahi sahaja. Adapun meletakkan hidung –di samping dahi- adalah sunat, tidak wajib. Sah sujud jika seseorang meletakkan dahinya sahaja di atas lantai tanpa meletakkan hidungnya. Bagi pandangan ini, hadis-hadis di atas menunjukkan kepada galakan, bukan kewajipan.
Ketiga; menurut Imam Abu Hanifah; boleh memilih sama ada hendak meletakkan dahi atau hidung di atas lantai. Bagi pandangan ini, isyarat Nabi kepada hidung tatkala menyebutkan dahi dalam hadis di atas ialah untuk menunjukkan keharusan memilih antara dahi atau hidung semasa sujud.

Adakah wajib semua anggota sujud di atas didedahkan (tanpa berlapik)?

Anggota-anggota sujud selain dahi telah sepakat para ulamak menyatakan tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tanah/lantai. Oleh itu, harus seseorang menunaikan solat dengan memakai sarung tangan atau stokin. Adapun dahi, maka ia terdapat khilaf di kalangan ulamak;
Pertama; pandangan ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie; dahi wajib didedahkan dan mengenai secara lansung tempat sujud (tanpa ada penghadang). Tidak sah sujud jika semua bahagian dahi berlapik sehingga tidak ada sedikitpun darinya yang terdedah dan mengenai tempat sujud secara langsung. Termasuk tidak sah ialah lapik dari pakaian yang dipakai ketika solat. Oleh demikian, tidak harus seseorang sujud di atas kain serban yang dipakainya atau di atas lengan bajunya atau di atas kain telekungnya atau benda-benda lain di badannya yang mengikuti pergerakan badannya.
Kedua; pandangan jumhur ulamak (termasuk Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad); dahi sama seperti anggota-anggota sujud yang lain iaitui tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tempat sujud. Oleh itu, bagi jumhur ulamak, tidak menjadi kesalahan jika seseorang itu sujud di atas kain serbannya atau kain telekungnya. Mereka berdalilkan hadis dari Anas bin Malik r.a. yang menceritakan; “Kami mengerjakan solat bersama Rasulullah s.a.w. ketika panas yang bersangatan. Apabila sesiapa dari kami tidak dapat meletakkan dahinya di atas tanah kerana panas, ia bentangkan pakaiannya dan sujud di atasnya”. (Riwayat Imam Muslim).
(Dalail al-Ahkam, 1/ 298-299).

Tatkala turun sujud, mana dulu yang perlu di letakkan di atas lantai; tangan atau lutut?

Perkara ini juga terdapat khilaf di kalangan ulamak;
Pertama; menurut jumhur ulamak (termasuk mazhab Imam Abu Hanifah, Syafi’ie dan Imam Ahmad); disunatkan turun sujud dengan mula meletakkan dua lutut, diikuti dua tangan dan akhirnya muka atau dahi. Ini berdasarkan hadis dari Wail bin Hujrin r.a. yang menceritakan; “Aku telah melihat Nabi apabila sujud, baginda meletakkan dua lututnya sebelum dua tangannya dan apabila bangkit dari sujud, baginda mengangkat dua tangannya (terlebih dahulu) sebelum dua lututnya” (Riwayat Imam Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Kedua; pandangan sebahagian ulamak (antaranya Imam Malik dan al-Auza’ie); sunat mendahulukan dua tangan dari dua lutut tatkala turun sujud. Ini berdalilkan sabda Nabi s.a.w.; “Jika seseorang dari kamu sujud, janganlah ia berteleku sebagaimana telekunya unta, sebaliknya hendaklah ia meletakkan dua tangannya terlebih dahulu sebelum dua lututnya” (Riwayat Abu Daud, at-Nasai dan Ahmad dari Abu Hurairah r.a.). Begitu juga, berdalilkan hadis dari Nafi’ yang menceritakan bahawa Ibnu ‘Umar r.a. semasa sujud, beliau meletakkan dua tangannya sebelum dua lututnya. Kata beliau (yakni Ibnu ‘Umar); “Nabi telah melakukan sedemikian” (Riwayat Imam al-Hakim, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi dengan sanad yang soheh. Lihat; Zadul-Ma’ad, 1/228)

Bagaimana cara sujud yang sempurna?

1. Ketika hendak turun sujud, ucapkan takbir tanpa mengangkat tangan.
2. Ketika sujud, dua tangan hendaklah diletakkan di atas lantai setentang dengan bahu atau telinga, dahi dan hidung hendaklah diletakkan di atas tanah dengan menekannya. Dari Abu Humaid as-Sa’idi menceritakan; “Nabi tatkala sujud, baginda menekan hidung dan dahinya ke tanah, menjauhkan dua tangan dari rusuknya dan meletakkan dua tapak tangan setentang dua bahunya” (Riwayat Imam at-Tirmizi dan Abu Daud. Menurut at-Tirmizi; hadis ini hasan soheh). Wail bin Hujrin r.a. (tatkala menceritakan sifat solat Nabi) beliau menceritakan; “….tatkala sujud, nabi meletakkan dua tangannya setentang dengan dua telinganya” (Riwayat Imam Ahmad).
3. Jari-jari dilepaskan menghala ke kiblat dalam keadaan dirapatkan antara satu sama lain. Wail bin Hujrin r.a. menceritakan; “Nabi s.a.w. tatkala ruku’ baginda merenggangkan antara jari-jarinya dan tatkala sujud baginda menghimpunnya (yakni merapatkannya)” (Riwayat al-Hakim).
4. Kedua-dua siku diangkat dari tanah (yakni jangan meratakannya di atas tanah) dan dijauhkan dari dua rusuk (yakni tidak merapatkannya ke rusuk). Sabda Nabi; “Apabila kamu sujud, letaklah dua tapak tanganmu di atas lantai dan angkatlah dua sikumu (yakni jangan menghamparnya di atas tanah)” (Riwayat Imam Muslim dari al-Barra’). Sabda Nabi s.a.w. juga; “Sempurnakanlah sujudmu. Dan janganlah seseorang kamu menghamparkan dua tangannya (dari tangan hingga siku) seperti hamparan anjing (yakni; meletakkan kedua-dua tangan dan siku di atas tanah/lantai umpama anjing tidur)” (Riwayat Imam Muslim dari Anas r.a.). Menjauhkan tangan dari rusuk adalah berdasarkan hadis at-Tirmizi tadi dan juga hadis dari Buhainah r.a. menceritakan; “Nabi semasa menunaikan solat tatkala sujud, baginda memisahkan antara dua tangannya (dari rusuknya) hingga nampak putih dua ketiaknya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim/Bulugul-Maram).
5. Jari-jari kaki hendaklah dilipatkan menghala ke arah kiblat. Abu Humaid as-Sa’idi r.a. tatkala menceritakan sifat solat Nabi s.a.w. beliau menjelaskan; “….Ketika sujud Nabi meletakkan kedua tangannya ke bumi tetapi lengannya tidak dihamparkan dan tidak pula dirapatkan ke rusuk dan hujung jari kakinya dihadapkan ke arah qiblat” (Riwayat Imam al-Bukhari).
6. Ketika melakukan sujud wajib tomaninah dengan pengertian yang telah diterangkan terdahulu.
7. Ketika sujud disunatkan membaca zikir-zikir yang warid dari Nabi terutamanya tasbih. Begitu juga digalakkan banyak berdoa ketika berada di dalam sujud. Sabda Nabi s.a.w.; “Sehampir-hampir seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika ia sedang sujud. Oleh demikian, perbanyakkanlah oleh kamu sekelian berdoa (ketika sujud)” (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Adakah harus membaca al-Quran semasa sujud?

Tidak harus kerana Nabi s.a.w. menegahnya dengan sabdanya; “Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca al-Quran ketika ruku’ atau sujud. Adapun di dalam ruku’, maka hendaklah kamu agungkan Tuhan kamu. Sementara di dalam sujud, hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, nescaya doamu pasti akan diperkenankan” (Riwayat Imam Muslim).