Tuesday, September 21, 2010

Apa itu (What is) "Taqaballahu minna wa minkum" dan ucapan Hari Raya?

Saya sudah lama mendengar ucapan ini dan sebelum dari ini sebenar nya kurang arif akan makna dan cara penggunaan nya. Akhir nya, saya membuat sedikit kajian tentang perkara ini untuk dikongsi bersama.

Ada khilaf yang mempunyai perbezaan pendapat tentang mula penggunaan ucapan ini. Satu pendapat mengatakan ianya bermula dari Rasulullah s.a.w. sendiri dan satu pendapat mengatakan ianya bermula di zaman sahabat.

Namun begitu, ianya sudah menjadi amalan yang tidak pula membawa kesan buruk. Ianya adalah ucapan agar ibadah dan kebaikan yang kita buat di bulan Ramadhan dan Syawal diterima oleh Allah swt. Dan ucapan ini wajar dijawab apabila orang menyebutnya kepada kita.

Sebagai penjelasan yang mengatakan ianya bermula dari Rasulullah s.a.w. sendiri;

Rasulullah biasa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada para sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian. Maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya 'puasaku dan puasa kalian'. Jadi ucapan ini bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Kemudian, untuk ucapan minal ‘aidin wal faizin itu sendiri tidak pernah dicontohkan, sepertinya itu budaya orang Malaysia & Indonesia. Yang sering salah digunakan adalah ucapan tersebut biasanya diikuti dengan “mohon maaf zahir dan batin”.

Jadi seolah-olah minal ‘aidin wal faizin itu ertinya 'mohon maaf zahir dan batin'. Padahal erti sebenar nya sama sekali berlainan. Minal ‘aidin artinya 'dari golongan yang kembali'. Dan wal faizin ertinya dari 'golongan yang menang'. Jadi makna ucapan itu adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan.

Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

A.Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
B.Mohon maaf zahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
C.Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
D.Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
E.Semua benar

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali) , sekarang kita cuba bongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin. Dari mana asal makna nya? ‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), bererti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.

Kalau penggunaan 'Aidin, dari mana pula asal? ‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” (“kembali berbuka”, pen) setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
‘audat = kembali (kata dasar)
‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

Kalau Faizin? Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang ertinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:
Faaza = ia [telah] menang (past tense)
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar).
Fuz = menanglah (fi’il amr/kata perintah)
Fa’iz = yang menang.

‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didah ului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis
dengan “Minal Aidin wal Faizin”.

Oleh itu, mengapa pula kita harus mulakan dengan penggunaan “min”?

“Min” ertinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa
digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya
‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

Selain bererti “dari”, Min juga mengandung erti lain. Syekh Ibnu Malik dari
Sepanyol @ Andalus, dalam syairnya menjelaskan:

Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah
Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah
Maknanya dengan “sebahagian”, ini kata penjelas dan permulaan tempat-
-Dengan MIN. Ianya kadang - kadang digunakan untuk menunjukkan permulaan waktu.

Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita boleh mendapat gambaran bahawa MIN
pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebahagian”
(lit-tab’idh ) . Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya:
BAHAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.

Kesimpulannya?
Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf Zahir dan Batin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan jika mahu. Tapi sekali lagi, mohon maaf zahir & batin itu bukan erti minal aidin. Namun begitu, jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bermaksud memaafkan orang. Bagi saya pula. pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih. Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!

———— ——— ——— ——— ——— ——— -
[Cairo,7 september 2009]

Sampai di sini, ternyata ucapan tsb (Minal Aidin Wal Faidzin) tidak pernah
ada dasar dan tuntunannya.
Silakan semak penjelasan berikut ini;

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/446 mengatakan: “Kami meriwayatkan dari guru-guru kami dalam “Al-Mahamiliyy at” dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair, beliau berkata :
“Para sahabat Rasulullah apabila mereka saling jumpa pada hari raya, sebagian mereka mengucapkan pada lainnya: “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu”.

Ibnu Qudamah juga menyebutkan dalam Al-Mughni 2/259 bahwasanya Muhammad bin Ziyad mengatakan :
“Saya pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan para sahabat Nabi lainnya,
maka apabila mereka kembali dari ied, sebagian mereka berucap pada lainnya : “Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu” (Imam) Ahmad berkata : “Sanad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)”. Imam Suyuthi juga berkata dalam Al-Hawi (1/81): “Sanadnya hasan”.

Adapun ucapan: “Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin”, “halal bi halal” atau “kosong-kosong” serta ungkapan-ungkapan lainnya, maka sebaiknya dihilangkan dan kita ganti serta membiasakan diri dengan lafadz syar’i yaitu (Taqobballahu Minna Wa Minka) sehingga kita tidak terj atuh dalam ayat :
“Apa kamu mau mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?”
(QS Al Baqoroh: 61)

Sumber:
[Dikutip dari majalah Al Furqon Edisi 2 Th. II hal 37 "Hari Raya Bersama Nabi
Shollallahu 'Alaihi Wasallam"]

Ini pula penjelasan yang mengatakan ucapan 'Taqaballahu.." ini bermula di zaman sahabat;
Ibn Taymiyyah (ra) said: “As for people greeting each other after the eid prayer by, ‘Taqaballahu minna wa minkum' (may Allah accept it from you and us) - it is reported that some of the shahabah practiced it, and the scholars permitted it. However, Ahmad said, ‘I do not initiate saying it to anyone; but if one says it to me, I answer him. This is because responding to a greeting is obligatory, but to initiate the greeting is not a required sunnah, neither is it prohibited: whoever does it it would have an example (from the salaf) and whoever does not would have a predecessor as well.” (Majmoo al-Fataawaa 24/253)

Al-Haafidh Ibn Hajr Al-Asqalani (ra) said: “We have related in “Mahaamiliyaat” with a chain of narration that is hasan, from Jabyr ibn Nufayr who said: ‘When the companions of RasulAllah (saw) met on the day of ‘eid, they would say to each other, ‘Taqaballahu minna wa minkum (may Allah accept from you and us ).” [Al Mahamiliyyat; hasan isnad; see Fath ul Bari 2:446]

Ibn Qudamah mentioned that Muhammad ibn Ziyad said: I was with Abu Umamah al Bahili (ra) and some other companions of the Prophet (saw). When they returned from the eid, they said to each other, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum (May Allah accept it from you and us).” (al-Mughni 2/259)

Kesimpulan.

Ucapan Taqaballahu Minna Waminkum adalah ucapan yang sebaik nya untuk Hari Raya berbanding Ucapan maaf zahir dan batin.

Cara menjawab ucapan ini;
Ada orang yg menjawab "Taqabbalahu minna waminkum" dengan ucapan balas “Taqabbal ya karim”. Ada juga orang menjawab dengan ucapan "Minna wa minkum taqabbalallah".

-------------------------------

3 comments:

  1. Izin ya saya share tulisan ini supaya lebih banyak yg paham, tq

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas penjelasan . Saya baru tahu maknanya

    ReplyDelete
  3. Penjelasan yang mencerahkan.
    Thanks.

    ReplyDelete